Sabtu, 13 Oktober 2012

SEKARANG SAYA SETUJU JIKA HUKUMAN BAGI MALING DAN KORUPTOR ITU HAMPIR SAMA, ATAU MUNGKIN LEBIH BERAT BAGI MALING

Diposting oleh amytia di 20.35 1 komentar

Mungkin banyak di antara Anda sekalian yang tidak setuju dengan pernyataan saya di atas. Bagaimana bisa seseorang yang hanya mengambil uang maksimal 100ribu diberi hukuman yang lebih berat jika dibandingkan dengan orang yang mengambil uang rakyat bermilyar-milyar.

Sebelumnya saya akan memberi alasan kenapa saya sampai berpendapat seperti itu. Ini bermula pada suatu malam, 20 September 2012, tepat sehari setelah ulang tahun saya yang ke-20 pada tanggal 19 september (oke harusnya ini ga usah disebutin).

Malam itu waktu menunjukkan pukul 22.30 WIB. Setelah selesai mengerjakan tugas di kamar teman kosan, saya kembali ke kamar untuk beristirahat. Tak berapa lama tertlelap, kira-kira pada pukul 23.10 WIB terdengar suara teriakan “Astaghfirulloh astaghfirulloh AAAAAAA!!!!!!” Saya terbangun dan terkaget-kaget. Awalnya saya mengira bahwa suara itu berasal dari kakak kos yang kesurupan, atau tindihan, atau apapun itu yang berhubungan dengan makhluk halus. Tapi tak berapa lama terdengar suara “gedebag-gedebug” dan kemudian “MALIIIIIING”. Sontak bulu kuduk saya berdiri. Hanya bisa beristighfar dalam hati dan meminta pertolongan pada-Nya tanpa berani beranjak keluar dari kamar ataupun turun dari tempat tidur. Yang saya takutkan adalah jika ternyata si maling tersebut tidak hanya satu orang, tetapi membawa temannya dan juga senjata tajam. Secara, di situ hanya ada kami bersembilan, dan semuanya perempuan. (Saya pernah mendengar cerita teman, bahwa ada anak di suatu kampus yang dibunuh di kosannya oleh si maling, dan diletakkan di kamar mandi. SUMPAH MEEEEENNNN HOROOOORRR BANGEEEETTTT.)

Dari dalam kamar saya mendengar kakak kos saya “melawan” maling tersebut. Dari cerita yang saya dengar setelahnya, ternyata kamar Mbak Nisa (kakak kos saya) itu tidak dikunci, sehingga maling bisa masuk ke kamarnya. Tapi mbak nisa terbangun. Mungkin karena kaget, si maling langsung menodongkan pisau ke leher mbak nisa. Tapi untunglah, pisau berhasil direbut. Namun si maling tersebut berhasil kabur dengan membawa satu buah handphone.

Setelah itu barulah kami semua berani keluar kamar dan memanggil bapak kos dan pak RT. Oke saya akui saat itu kami semua cupu, ciken, cemen, karena tidak ada seorangpun yang berani keluar kamar dan membantu mbak nisa melawan maling itu. Saya akui saya egois karena hanya memikirkan keselamatan saya sendiri, sedangkan di luar, saudara saya sedang berjuang sendiri. Beribu-ribu maaf saya ucapkan kepada mbak nisa L

Setelah kejadian itu, suasana kosan menjadi semakin mencekam. Semua penghuni kos yang memang hanya 9 orang menjadi ketakutan. Kami tidak berani ke kamar mandi sendiri, tidak berani tidur sendiri, di kosan sendiri. Parno terhadap semua suara-suara yang ada. Mudah sekali terkejut, deg-degan, curiga terhadap suara motor yang berhenti di depan kos, bahkan pulang dari kampus setelah lewat maghrib pun tidak berani. Hal ini memang didukung oleh faktor eksternal kosan yang memang sepi, letaknya tidak strategis yakni di depan kebun pisang, tanpa ada tetangga di sekitarnya =.=

Sejak kejadian itu, saya tidak berani tidur di kosan. Selalu nomaden, berpindah dari kos teman satu ke kos teman yang lain (hal ini saya lakukan kurang lebih 2 minggu). Selalu terbangun tiap tengah malam, tidur tak nyenyak karena selalu teringat dan terngiang-ngiang teriakan dari mbak nisa yang memang menurut  saya hal tersebut sangat amat mengerikan. Tepat setelah kejadian itu kondisi fisik saya jadi menurun. Panas, demam, muntah-muntah dan diare sampai hampir seminggu. Setiap hari, setiap malam selalu menangis. Mendengar suara teriakan sedikit langsung terasa sakit sekali jantung ini. Yang jelas sat itu saya benar-benar depresi.

Memasuki minggu ketiga, saya mulai memberanikan diri untuk tidur di kosan, walaupun belum berani untuk tidur sendiri. Selalu tidur di kamar teman, ataupun mengajak teman saya untuk menginap di kosan. Saat saya sudah mulai lupa, dan mulai menata kembali kehidupan saya yang abnormal, di saat saya mulai menghilangkan trauma tersebut, tapi tiba-tiba.....

Sabtu 13 Oktober 2012, pukul 04.00 WIB. Saya mendengar suara teriakan teman satu kos saya. Suara teriakan yang sekali lagi, sangat amat mengerikan.  Awalnya saya berpikir bahwa itu hanya halusinansi saya, ataupun hanya saya seorang yang mendengar suara tersebut, sehingga saya menyimpulkan kalau itu hanya suara makhluk halus =.=

Tapi ternyata, tak berapa lama semua penghuni kos keluar kamar dan menanyakan apa yang terjadi. Dan ternyata lagi, kaca ventilasi teman saya yang bernama Dewi dipecah oleh seseorang dari luar. Teman-teman langsung menelepon Pak RT dan bapak kos. Setelah diselidiki, TERNYATA ada maling yang memanjat pagar kosan sebelah kos kami. Tapi karena terlanjur ketauan oleh penghuni kos di dalamnya, si maling itu mencoba kabur, dan (mungkin) mencoba untuk masuk ke kosan kami untuk bersembunyi. Namun tidak berhasil juga karena mendengar teriakan Dewi tadi.

Astaghfirulloih, masya Alloh, belum sembuh luka ini. Belum sembuh trauma ini. Belum ada satu bulan setelah kejadian tersebut. Tapi kenapa?

Kini saya mengerti kenapa maling ayam, maling sapi, maling kapas, maling semangka, mereka mendapatkan hukuman yang sama seperti dengan koruptor. Kenapa?

Anda (oke, mungkin lebih tepatnya menggunakan kata “SAYA”) memerlukan waktu lama untuk menyembuhkan trauma yang diakibatkan oleh si maling tersebut. Selalu terngiang akan teriakan-teriakan yang terdengar sangat mengerikan. Menjadi parno dalam melakukan apapun. Tidak berani dalam suasana sepi, gelap. Menjadi stress dan depresi. Sering menangis sendiri. Tatapan kosong. Dampak psikis yang dihasilkan sangat-sangat amat jauh lebih besar jika dibandingkan dengan dampak yang kita dapat dari koruptor. Apa Anda sadar jika koruptor-koruptor tersebut telah mengambil bermilyar-milyar uang Anda? Apa Anda merasa kehilangan? Apakah Anda mendapatkan rasa takut, trauma? Jawabannya adalah TIDAK. Toh kita merasa “fine-fine” saja.

Dulu saat masih SD, dalam soal ujian mata pelajaran PPKN, terdapat soal:
Jika ada seseorang yang ketahuan mencuri, maka yang harus kita lakukan adalah:
a.   Melaporkannya pada polisi
b.  Memukulinya sampai babak belur
c.  Mendiamkannya
Berani taruhan, pasti semua dari kita akan menjawab “melaporkan pada polisi”. Namun jika soal itu diberikan di saat sekarang maka saya akan menjawab “memukulinya sampai babak belur”.

Sama halnya dengan saat menonton berita di tv dimana ada seorang pencuri, maling, penjambret, dan kawan-kawannya yang babak belur dihajar masa, dulu saya selalu berkata
“yakampun, kasian banget sih. Tega banget yang mukulin.”
Tapi sekarang, saya akan berkata
“iya pukulin aja, hajar aja sampe mampus gapapa.”

Oke mungkin cerita saya ini terlihat berlebihan bagi Anda.
“Halah yakampun cuma gara2 itu duank sampe segitunya. Lebay deh”
Terserah J
Anda tidak benar-benar mengerti apa yang saya rasakan. Andai Anda ada di posisi saya. Mengalami apa yang saya alami. Merasakan apa yang saya rasakan (halah berlebihan :D)

Yang saya butuhkan saat ini (selain kos-kosan baru tentunya =.=) adalah kalian, teman-teman yang sangat saya cintai, yang selalu memberikan dukungan kepada saya, memberi semangat agar saya tidak takut lagiJ

Dan juga saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada teman-teman kosan yang mungkin menganggap saya “kaburan” karena tidak pernah tidur di kos. Oke, saya akui saya memang takut jika berada di kosan (saya juga tau kalian merasakan hal yang sama). Tapi selain itu, hal ini juga didukung oleh faktor eksternal, yakni tugas-tugas dan kesibukan kuiah yang mengharuskan saya untuk pulang dari kampus malam-malam. Jika harus pulang ke kosan jam 10,di saat suasana kosan sudah sepi, dan harus melewati kebun pisang depan kos, tentunya itu di luar batas keberanian saya. Maka dari maka saya lebih memilih untuk menginap di kosan teman.

Ucapan terimakasih juga untuk teman-teman seangkatan saya, biologi 2010, yang telah bersedia menampung saya di kos-kosan mereka setiap malam, menjelajah dari kosan satu ke kos lain.

Oke, sebenarnya ada juga sisi positif dari kejadian ini. Setidaknya, saya jadi jarang keluar atau pergi malam2 lagi. Biasanya pulang jam 12 malam pun tidak menjadi masalah, dengan alasan “halah, gag ada ibu kos nya ini, gag ada yang marahin”. Namun sekarang, jangankan jam 12, siang-siang berada di kosan pun terasa sangat mencekam, keluar habis mahgrib untuk sekedar mencari makan pun raga ini tak kuasa =.=

Pliz, cukup DUA KALI aja ngalamin kejadian kayak gini. Gag mau lagi :’)

Terakhir untuk rekan-rekan sekalian yang punya info kos-kosan di sekitar jalan Surya (maksimal sampai surya 3 aja ye =.=), dengan kriteria:
1.    Ada ibu kosnya
2.    Bersih
3.    Kamarnya gag sempit-sempit banget
4.    Air lancar, dan gag kuning
5.    Rame
6.   AMAN
7.   GAG HOROR
8.   Atau temen2 biologi yang mau sekamar sama aku, berhubung dikarenakan aku masih gag berani bobok sendiri =.=
Bisa lah ya kasih tau. Butuh banget sekarang T.T
 

Oh AMYTIA Gadis Cilik Lincah Nian Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea