Mungkin banyak di antara Anda sekalian yang tidak setuju dengan
pernyataan saya di atas. Bagaimana bisa seseorang yang hanya mengambil uang
maksimal 100ribu diberi hukuman yang lebih berat jika dibandingkan dengan orang
yang mengambil uang rakyat bermilyar-milyar.
Sebelumnya saya akan memberi alasan kenapa saya sampai
berpendapat seperti itu. Ini bermula pada suatu malam, 20 September 2012, tepat
sehari setelah ulang tahun saya yang ke-20 pada tanggal 19 september (oke
harusnya ini ga usah disebutin).
Malam itu waktu menunjukkan pukul 22.30 WIB. Setelah selesai
mengerjakan tugas di kamar teman kosan, saya kembali ke kamar untuk
beristirahat. Tak berapa lama tertlelap, kira-kira pada pukul 23.10 WIB
terdengar suara teriakan “Astaghfirulloh
astaghfirulloh AAAAAAA!!!!!!” Saya terbangun dan terkaget-kaget. Awalnya
saya mengira bahwa suara itu berasal dari kakak kos yang kesurupan, atau
tindihan, atau apapun itu yang berhubungan dengan makhluk halus. Tapi tak
berapa lama terdengar suara “gedebag-gedebug” dan kemudian “MALIIIIIING”. Sontak bulu kuduk saya berdiri. Hanya bisa
beristighfar dalam hati dan meminta pertolongan pada-Nya tanpa berani beranjak
keluar dari kamar ataupun turun dari tempat tidur. Yang saya takutkan adalah
jika ternyata si maling tersebut tidak hanya satu orang, tetapi membawa
temannya dan juga senjata tajam. Secara, di situ hanya ada kami bersembilan,
dan semuanya perempuan. (Saya pernah mendengar cerita teman, bahwa ada anak di
suatu kampus yang dibunuh di kosannya oleh si maling, dan diletakkan di kamar
mandi. SUMPAH MEEEEENNNN HOROOOORRR BANGEEEETTTT.)
Dari dalam kamar saya mendengar kakak kos saya “melawan” maling
tersebut. Dari cerita yang saya dengar setelahnya, ternyata kamar Mbak Nisa
(kakak kos saya) itu tidak dikunci, sehingga maling bisa masuk ke kamarnya.
Tapi mbak nisa terbangun. Mungkin karena kaget, si maling langsung menodongkan
pisau ke leher mbak nisa. Tapi untunglah, pisau berhasil direbut. Namun si
maling tersebut berhasil kabur dengan membawa satu buah handphone.
Setelah itu barulah kami semua berani keluar kamar dan memanggil
bapak kos dan pak RT. Oke saya akui saat itu kami semua cupu, ciken, cemen,
karena tidak ada seorangpun yang berani keluar kamar dan membantu mbak nisa
melawan maling itu. Saya akui saya egois karena hanya memikirkan keselamatan
saya sendiri, sedangkan di luar, saudara saya sedang berjuang sendiri.
Beribu-ribu maaf saya ucapkan kepada mbak nisa L
Setelah kejadian itu, suasana kosan menjadi semakin mencekam.
Semua penghuni kos yang memang hanya 9 orang menjadi ketakutan. Kami tidak
berani ke kamar mandi sendiri, tidak berani tidur sendiri, di kosan sendiri.
Parno terhadap semua suara-suara yang ada. Mudah sekali terkejut, deg-degan,
curiga terhadap suara motor yang berhenti di depan kos, bahkan pulang dari
kampus setelah lewat maghrib pun tidak berani. Hal ini memang didukung oleh
faktor eksternal kosan yang memang sepi, letaknya tidak strategis yakni di
depan kebun pisang, tanpa ada tetangga di sekitarnya =.=
Sejak kejadian itu, saya tidak berani tidur di kosan. Selalu
nomaden, berpindah dari kos teman satu ke kos teman yang lain (hal ini saya
lakukan kurang lebih 2 minggu). Selalu terbangun tiap tengah malam, tidur tak
nyenyak karena selalu teringat dan terngiang-ngiang teriakan dari mbak nisa
yang memang menurut saya hal tersebut
sangat amat mengerikan. Tepat setelah kejadian itu kondisi fisik saya jadi
menurun. Panas, demam, muntah-muntah dan diare sampai hampir seminggu. Setiap
hari, setiap malam selalu menangis. Mendengar suara teriakan sedikit langsung
terasa sakit sekali jantung ini. Yang jelas sat itu saya benar-benar depresi.
Memasuki minggu ketiga, saya mulai memberanikan diri untuk tidur
di kosan, walaupun belum berani untuk tidur sendiri. Selalu tidur di kamar
teman, ataupun mengajak teman saya untuk menginap di kosan. Saat saya sudah
mulai lupa, dan mulai menata kembali kehidupan saya yang abnormal, di saat saya
mulai menghilangkan trauma tersebut, tapi tiba-tiba.....
Sabtu 13 Oktober 2012, pukul 04.00 WIB. Saya mendengar suara
teriakan teman satu kos saya. Suara teriakan yang sekali lagi, sangat amat
mengerikan. Awalnya saya berpikir bahwa
itu hanya halusinansi saya, ataupun hanya saya seorang yang mendengar suara
tersebut, sehingga saya menyimpulkan kalau itu hanya suara makhluk halus =.=
Tapi ternyata, tak berapa lama semua penghuni kos keluar kamar
dan menanyakan apa yang terjadi. Dan ternyata lagi, kaca ventilasi teman saya
yang bernama Dewi dipecah oleh seseorang dari luar. Teman-teman langsung
menelepon Pak RT dan bapak kos. Setelah diselidiki, TERNYATA ada maling yang
memanjat pagar kosan sebelah kos kami. Tapi karena terlanjur ketauan oleh
penghuni kos di dalamnya, si maling itu mencoba kabur, dan (mungkin) mencoba
untuk masuk ke kosan kami untuk bersembunyi. Namun tidak berhasil juga karena
mendengar teriakan Dewi tadi.
Astaghfirulloih, masya Alloh, belum sembuh luka ini. Belum
sembuh trauma ini. Belum ada satu bulan setelah kejadian tersebut. Tapi kenapa?
Kini saya mengerti kenapa maling ayam, maling sapi, maling
kapas, maling semangka, mereka mendapatkan hukuman yang sama seperti dengan
koruptor. Kenapa?
Anda (oke, mungkin lebih tepatnya menggunakan kata “SAYA”) memerlukan
waktu lama untuk menyembuhkan trauma yang diakibatkan oleh si maling tersebut.
Selalu terngiang akan teriakan-teriakan yang terdengar sangat mengerikan.
Menjadi parno dalam melakukan apapun. Tidak berani dalam suasana sepi, gelap.
Menjadi stress dan depresi. Sering menangis sendiri. Tatapan kosong. Dampak
psikis yang dihasilkan sangat-sangat amat jauh lebih besar jika dibandingkan
dengan dampak yang kita dapat dari koruptor. Apa Anda sadar jika
koruptor-koruptor tersebut telah mengambil bermilyar-milyar uang Anda? Apa Anda
merasa kehilangan? Apakah Anda mendapatkan rasa takut, trauma? Jawabannya
adalah TIDAK. Toh kita merasa “fine-fine” saja.
Dulu saat masih SD, dalam soal ujian mata pelajaran PPKN,
terdapat soal:
Jika
ada seseorang yang ketahuan mencuri, maka yang harus kita lakukan adalah:
a.
Melaporkannya pada polisi
b. Memukulinya
sampai babak belur
c. Mendiamkannya
Berani taruhan, pasti semua dari kita akan menjawab “melaporkan pada polisi”. Namun jika
soal itu diberikan di saat sekarang maka saya akan menjawab “memukulinya sampai babak belur”.
Sama halnya dengan saat menonton berita di tv dimana ada seorang
pencuri, maling, penjambret, dan kawan-kawannya yang babak belur dihajar masa,
dulu saya selalu berkata
“yakampun, kasian banget sih. Tega
banget yang mukulin.”
Tapi sekarang, saya akan berkata
“iya pukulin aja, hajar aja sampe
mampus gapapa.”
Oke mungkin cerita saya ini terlihat berlebihan bagi Anda.
“Halah yakampun cuma gara2 itu duank
sampe segitunya. Lebay deh”
Terserah J
Anda tidak benar-benar mengerti apa yang saya rasakan. Andai
Anda ada di posisi saya. Mengalami apa yang saya alami. Merasakan apa yang saya
rasakan (halah berlebihan :D)
Yang saya butuhkan saat ini (selain kos-kosan baru tentunya =.=)
adalah kalian, teman-teman yang sangat saya cintai, yang selalu memberikan
dukungan kepada saya, memberi semangat agar saya tidak takut lagiJ
Dan juga saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada
teman-teman kosan yang mungkin menganggap saya “kaburan” karena tidak pernah
tidur di kos. Oke, saya akui saya memang takut jika berada di kosan (saya juga
tau kalian merasakan hal yang sama). Tapi selain itu, hal ini juga didukung
oleh faktor eksternal, yakni tugas-tugas dan kesibukan kuiah yang mengharuskan
saya untuk pulang dari kampus malam-malam. Jika harus pulang ke kosan jam 10,di
saat suasana kosan sudah sepi, dan harus melewati kebun pisang depan kos,
tentunya itu di luar batas keberanian saya. Maka dari maka saya lebih memilih
untuk menginap di kosan teman.
Ucapan terimakasih juga untuk teman-teman seangkatan
saya, biologi 2010, yang telah bersedia menampung saya di kos-kosan mereka
setiap malam, menjelajah dari kosan satu ke kos lain.
Oke, sebenarnya ada juga sisi positif dari kejadian ini.
Setidaknya, saya jadi jarang keluar atau pergi malam2 lagi. Biasanya pulang jam
12 malam pun tidak menjadi masalah, dengan alasan “halah, gag ada ibu kos nya ini,
gag ada yang marahin”. Namun sekarang, jangankan jam 12, siang-siang berada di
kosan pun terasa sangat mencekam, keluar
habis mahgrib untuk sekedar mencari makan pun raga ini tak kuasa =.=
Pliz, cukup DUA KALI
aja ngalamin kejadian kayak gini. Gag mau lagi :’)
Terakhir untuk rekan-rekan sekalian yang punya info kos-kosan di
sekitar jalan Surya (maksimal sampai surya 3 aja ye =.=), dengan kriteria:
1. Ada ibu kosnya
2. Bersih
3. Kamarnya gag sempit-sempit banget
4. Air lancar, dan gag kuning
5. Rame
6.
AMAN
7.
GAG HOROR
8.
Atau temen2 biologi yang mau sekamar
sama aku, berhubung dikarenakan aku masih gag berani bobok sendiri =.=
Bisa lah ya kasih tau. Butuh banget sekarang T.T